Serunya Panen Madu di Hutan Wanagama

January 29, 2021

 

CARE VISIT DOMPET DHUAFA

SERUNYA PANEN MADU DI HUTAN WANAGAMA

 

Pagi itu, aku kembali menyambangi Kantor Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang berlokasi di Jl. HOS Cokroaminoto No. 146 Tegalrejo, Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Ini bukan kunjunganku yang pertama, mungkin sudah ke-empat, atau ke-lima kali… Kedatanganku kali ini untuk berpartisipasi dalam event tahunan DOMPET DHUAFA YOGYAKARTA, yang bertajuk “Care Visit”. Yup~ beruntungnya aku dapat undangan untuk tour berkeliling ke beberapa tempat program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa Yogyakarta. Program tahunan ini merupakan salah satu sarana syiar program dan produk pemberdayaan dari dana zakat produktif yang diamanahkan donatur kepada Dompet Dhuafa. Sekaligus sebagai bentuk transparansi kepada donatur dan masyarakat, supaya mereka tahu penggunaan dana dari zakat produktif itu, begituuu…

 #

 


 

Dompet Dhuafa Yogyakarta mengundang perwakilan donatur, komunitas/media, dan beberapa influencer, untuk ikut serta dalam kegiatan Care Visit Dompet Dhuafa Yogyakarta. Ada puluhan peserta yang berpartisipasi. Acara yang digelar setiap tahun ini dikemas dalam konsep tour ke berbagai program pemberdayaan ekonomi DHOMPET DHUAFA YOGYAKARTA. Bersama dengan jajaran staf dan relawan Dompet Dhuafa Yogyakarta, kami memulai kegiatan care visit dengan mengunjungi tempat pertama yaitu budidaya lebah madu di Hutan Wanagama, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

 

Perjalanan kami memakan waktu kira-kira satu jam hingga saatnya rombongan kami memasuki kawasan Hutan Wanagama. Memang budidaya lebah madu ini lokasinya bener-bener di tengah hutan, bukan sekadar di pinggir-pinggir hutan aja. Hutan ini luas banget, loh, tapi jalan masuk ke hutan bisa diakses dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Tempat budidaya lebah madu ini tersebar di beberapa lokasi, kami akan mengunjungi salah satu petak lokasinya. Biar terasa effort-nya, kami sedikit berjalan masuk ke area tempat budidaya. Ceileh…

 

Kotak-kotak berwarna biru tempat sarang lebah terhampar diantara pohon-pohon akasia dan eukaliptus yang banyak tumbuh di Hutan Wanagama. Seorang bapak tua menghampiri kami, dan menyambut dengan hangat. Beliau ialah Pak Purwanto, Ketua Kelompok Tani Madu Sumber Rejeki. Kelompok ini merupakan kelompok binaan BMT Ummat dan DOMPET DHUAFA YOGYAKARTA. Barangkali, aku adalah salah satu orang yang beruntung karena pernah berjumpa dengan Pak Purwanto. Julukan yang disematkan padanya adalah “Profesor Lebah”.

 

 Bagaimana pria lulusan sekolah dasar ini bisa mendapat gelar professor?



Rupanya, Pak Pur merupakan penggagas budidaya madu di Hutan Wanagama. Pria berusia enam puluh lima tahun ini telah berkiprah puluhan tahun menggeluti dunia madu, sejak Tahun 1980. Ia mulai memelihara lebah madu sebagai penghasilan tambahan bagi keluarganya, di Hutan Wanagama, hutan penelitian milik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pak Pur meminta izin untuk memelihara lebah di sekitar hutan. Selama melakoni pekerjaannya itu, ia banyak belajar, tentunya secara otodidak.

 

Pak Pur mendapatkan temuan pohon akasia jenis manginum dan eukaliptus merupakan sumber makanan lebah madu. Ia pun membuat lebih banyak kotak sarang lebah dan ditempatkan dekat dengan sumber makanan lebah. Berkat ketekunannya itulah ia dijuluki “Professor Lebah”. Jejak Pak Pur yang membudidayakan lebah kemudian diikuti oleh warga lain, mereka juga ikutan memelihara lebah. Pak Pur memiliki 300-an kotak sarang lebah. Ia memperkirakan lebih dari ribuan kotak sarang lebah yang ada di Hutan Wanagama.

 


Setelah beberapa patah kata sambutan, para peserta kemudian diajak untuk panen madu, didampingi oleh belasan bapak-bapak petani madu lainnya. Ya! Bukan hanya berkunjung saja, peserta juga bisa mendapatkan pengalaman langsung dengan mencoba program pemberdayaan. Alhamdulillah, aku senang sekali bisa mengikuti care visit yang diselenggarakan DOMPET DHUAFA YOGYAKARTA. Banyak pelajaran, pengalaman, dan hal-hal baru yang aku dapatkan.


“Peserta care visit juga mendapatkan kesempatan bincang-bincang langsung dengan para penerima zakat. Kehangatan antara peserta care visit dan peserta program pemberdayaan terasa akrab.”

 

Panen madu memang dilaksanakan pada waktu siang, ketika sebagian besar lebah sedang mencari makan. Pak Pur kemudian menjelaskan cara memanen madu, sembari mempraktikkannya. Sebelum panen, peserta care visit sudah dibekali dengan alat tempur berupa topi anti lebah, topi dengan jaring yang dapat menutupi hingga bagian leher, dan sarung tangan tebal. Ini tuh untuk menghindari sengatan lebah kalau-kalau mereka ngentup…

 


 

Sebelum madu dipanen, dilakukan proses penjinakkan lebah dengan cara pengasapan di luar dan di dalam sarang lebah. Tujuannya adalah agar lebah menjauh dari sarangnya, dan berpindah dari kotak, sehingga madu bisa segera dipanen. Pak Pur perlahan mendekati kotak-kota itu sembari membawa sabut kelapa yang dibakar, dan mengasapi kotak sarang lebah. Sedetik lebah-lebah berhamburan meninggalkan sarang mereka.

 

“Pak, kok nggak pakai topi dan sarung tangan?” Aku heran melihat Pak Pur, dan bapak-bapak lainnya sama sekali tidak memakai topi dan sarung tangan.

 

“Saya sudah terbiasa jadi nggak perlu pakai (topi dan sarung tangan). Tapi jangan ditiru, butuh puluhan tahun agar bisa kebal sengatan lebah,” katanya dengan jenaka, langsung disambut gelak tawa peserta care visit.

 

Pak Pur rupanya sudah terbiasa tersengat lebah. Yaiyalah, udah puluhan tahun berburu manisnya madu… Pak Pur memang kebal sengatan lebah. Istilahnya gini, meski ratusan lebah mengeroyoknya, nggak ada yang bisa memberikan rasa sakit, atau menembus kulit Pak Pur. Wusshhh, sangar gaes…

 

Oke, kembali ke cerita, ya…

Dengan tenang, Pak Pur mulai mengeluarkan sarang-sarang berisi madu, satu per satu. Dan memperlihatkan kepada para peserta care visit. “Jadi begini bentuk sarang lebahnya,” kata Pak Pur. Selembar sarang lebah yang ditentengnya penuh madu sampai menetes-netes. Woah, sarang lebahnya menakjubkan! Pak Pur kemudian mempersilakan para peserta mencoba memanen madu.

 

 

Aku tak mau melewatkan pengalaman baru ini, dong, dan mencoba mengeluarkan sarang lebah dari kotaknya. Buatku ini adalah pengalaman pertama memanen madu… Aku mengeluarkan satu sarang dari kotaknya. Sarung tangan yang tebal dan kebesaran membuatku sedikit kesulitan, sampai akhirnya aku benar-benar berhasil mengeluarkannya. Sebenarnya cukup gampang mengangkatnya, cuma aku was-was kalo’ sarang yang menempelnya tiba-tiba poklek gitu lho…


 

 

Dalam proses memanen, juga dilakukan proses regenerasi, yakni memotong bagian dari sarang yang berisi koloni, untuk diletakkan kembali ke dalam kotak. Dalam proses pemanenan, sekaligus dilakukan pemeliharaan sarang lebah. Salah satunya adalah menghilangkan calon ratu, karena dalam satu kotak sarang lebah hanya boleh ada satu ratu. Aku baru tahu, kalau hal tersebut berpengaruh terhadap jumlah produksi madu. Kotak yang hanya ada satu ratu akan menghasilkan madu lebih maksimal. Saat bunga-bunga kembali bersemi, maka lebah akan menghasilkan madu lebih banyak.

 

Madu dan sarang lebah yang baru aja dipanen ini bisa langsung dinikmati, loh. Iya, cius nggak bo’ong! Aku mencicipi madu yang kupanen sendiri, enak, manis. Tapi nggak semua aku makan, loh, secuil aja… Warna madunya kuning keemasan, teksturnya nggak terlalu kental. Aku menggigit sekaligus dengan sarangnya, disesep-sesep gitu madunya. Sarangnya dikunyah, teksturnya seperti ada lapisan lilin gitu lho… Sarangnya aman ditelan, bagus untuk pencernaan, katanya. Aku coba telan sekali, tapi ternyata aku nggak suka hehehe, jadi aku makan madunya sadja…

 

Setelah sarang-sarang dipanen, tahap selanjutnya adalah proses pemanasan dengan cara penjemuran. Hal ini dilakukan agar madu terpisah dari sarangnya dan bisa dikemas dalam botol.

Madu dipasarkan dengan merek “Madu Masigama” yang merupakan 100% Madu Murni. Madu dari lebah yang dibudidayakan di Hutan Wanagama, oleh Kelompok Tani Madu Sumber Rejeki binaan BMT Ummat dan Dompet Dhuafa Yogyakarta.

 



 

Puluhan petani madu tergabung dalam Kelompok Tani Madu Sumber Rejeki. Mereka menggantungkan hidup dari madu lebah Hutan Wanagama. Ya, hutan ini menjadi sumber rejeki bagi banyak warga di sana.

 

“Zakat dapat mengubah nasib banyak orang, terutama mereka kaum dhuafa. Manfaat pengelolaan zakat bahkan bisa menggugah mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki, melalui platform PEMBERDAYAAN.”

 

Semoga makin banyak masyarakat yang sadar menunaikan zakatnya.

Semoga Dompet Dhuafa semakin menebar manfaat kepada masyarakat dhuafa.

 

#

 

‒ Teks & Foto : Nisya Rifiani / January 2021 ‒

Don’t copy any materials in this blog without permission

For Collaboration or Bussiness Inquiry, email : rifiani.nisya@gmail.com


You Might Also Like

10 comments

  1. Yaa ampuuun aku dr dulu pengen bisa liat madu kalo dipanen. Penasaran aja gimana caranya. Dari sarang yang berbentuk gitu.

    Bapaknya salut ah, bisa kenal hahahahha. Aku pernah sekali disengat, itu sakitnya ampuuun :D. G kebayang utk bisa jd kebal hrs berapa kali disengat hihihihi.

    Aku prnh juga makan sarang lebah, di restoran eskrim di medan. Ada yg jual, disajikan Ama es krim gitu. Iya sih agak aneh rasanya. Tapi aku kunyah2 sampe madunya abis, trus aku telan aja :D.

    Dompet dhuafa udh jd langgananku utk nyalurin zakat penghasilan Ama zakat harta mba. Praktis gampang terpercaya. Itu yg bikin aku dr dulu selalu pake dompet dhuafa.

    Trus sekali juga pernah beli kurban dari sini. Dan mereka beneran kirim semua dokumentasinya loh. Salut.

    ReplyDelete
  2. Penjualan madunya kemana mbak? Bisa nggak sih kita pesan madunya langsug ke petani disana, siapa tau harganya juga jadi lebih murah gitu..

    ReplyDelete
  3. Ooo pantes, saya suka heran dengan petani madu (eh petani atau peternak ya?) Kok ya cuek aja ga pakai pelindung tubuh. Ternyata mereka sudah kebal dengan sengatan tawonnya. Perlu puluhan tahun pula yaa biar kebal. Btw, memang zakat yang benar tersalurkan sangat membantu saudara2 kita yang membutuhkan

    ReplyDelete
  4. Dengan zakat maka masyarakat kembali berdaya.
    Ini sungguh bagus sekali program dari Dompet Dhuafa, dimana para masyarakat diberi bekal, tidak hanya uang yang habis dalam sekali pakai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yak benar. Program Pemberdayaan memang salah satu program unggulan Dompet Dhuafa, membantu para dhuafa mentas dari kemiskinan, sekaligus membangun mental mereka supaya berdaya dan tidak hanya berpasrah saja...

      Delete
  5. Keren nih programnya Dompet Dhuafa, langsung turun ke lapangan melalu program yang bertajuk Care Visit, sehingga masyarakat semakin percaya untuk menitipkan zakatnya ke Dompet Dhuafa.

    ReplyDelete
  6. Sejujurnya aku selalu penasaran sama panen madu dan gimana rasanya madu yg fresh dr sarangnya gitu. Tp aku ga bisa makan madu, tiap makan madu kepala rasanya vertigo dan mualnya keterlaluan *hiks, sedih banget.

    Btw semoga program2nya Dompet Duafa berkah n berjalan lancar, spy makin banyak yg terbatu. Amen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sayang sekali kak tidak bisa makan madu dan malah menimbulkan masalah kesehatan...

      Mungkin bisa coba metode hipnosis kak, dulu aku pun pernah bermasalah dengan daging bebek yang mana tiap kali makan daging bebek pasti alergi, bibir pecah-pecah sampai keluar nanah, padahal doyan banget tuh sama daging bebek... Akhirnya berniat mencoba metode hipnosis dan akhirnya sembuh mbak...

      Aamiin. Kita doakan bersama agar Dompet Dhuafa senantiasa menjadi jembatan bagi mustahik dan muzzaki... dan dapat membantu mensejahterakan ummat

      Delete
  7. Jika dikelola dengan sangat baik, harusnya tidak ada yang sengsara di indonesia ini ya mba karena mayoritas muslim yang sudah terbiasa dengan zakat, sedekah dan infaq. Bahkan non muslim di Indonesia juga memiliki kepedulian tinggi saat ada bencana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak, meski banyak juga yang belum sadar akan manfaat zakat tapi kalau dikelola dengan baik bisa mensejaterahkan ummat. Untuk agama selain muslim itu sebenernya mereka juga punya konseo sedekah, cuma namanya aja yang beda

      Delete

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe