Kue Balok Khas Jawa Barat, Si Manis yang Legit Menggigit

February 09, 2019


EAT AND CULINARY
BANDUNG, TRADITIONAL SNACK

KUE BALOK KHAS JAWA BARAT
SI MANIS YANG LEGIT MENGGIGIT

KUE BALOK Khas Jawa Barat nampaknya lagi naik daun yah~ Belakangan, pedagang jajanan kue balok ini makin banyak, termasuk di kota tempat tinggalku, KOTA JOGJA. Padahal, sebelum jadi panganan kekinian, kuliner sunda ini sudah eksis duluan. KUE BALOK ini teksturnya garing di luar, tapi lembut dan meleleh di dalam, rasanya manis gurih, hhmmm yummy... Bicara Kue Balok, aku jadi teringat ketika pertama kali mencicipi kue ini, di Kota Bandung…


Aku dan Shinta, partner reporter, bertolak dari Jogja ke Bandung, Medio 2016. Agenda kami, tentu saja liputan, ‒karena mustahil ada agenda lain selain itu. Di sela-sela kegiatan liputan, kami nge-trip tipis-tipis. Rencana awal, kami ingin mengunjungi Ciwidey, Bandung Selatan. Daerah ini memang terkenal sebagai salah satu surga wisata Kota Bandung. Sebut saja Situ Patenggang, Kebun Teh Rancabali, Pemandian Cimanggu, Pemandian Walini, Bumi Kemah Ranca Upas, dan Kawah Putih Ciwidey, yang merupakan kawasan paling terkenal. Alih-alih mengunjungi tempat-tempat wisata itu, rencana batal terlaksana lantaran kami baru berangkat menjelang siang, dan sampai sana menjelang malam *LOL. Tapi, sebagai gantinya, aku dan shinta akan membawa KAWAN RANSEL mencicipi KUE BALOK.


Sepanjang sore itu, turun hujan yang amat deraslaahhh, sayur kol…
Wait, wait, wait, bacanya nggak usah sambil nyanyi ya. Aku dan Shinta menyusuri ramainya jalan sepanjang Jl. Siliwangi, Ciwidey, Bandung, seusai bersilaturahmi ke rumah seorang kawan. Ada sebuah kedai berlantai dua yang menarik perhatian, bukan karena bangunannya yang megah, tapi justru karena kondisinya kelewat sederhana, jauh dari kata mewah… Kedai itu menjual jajanan kue lawas khas Kota Kembang, KUE BALOK. Ah~ aroma wangi adonan terigu yang berpadu dengan telur dan gula pasir, serta mentega, menyeruak dari dalamnya. Kami memutuskan untuk mampir dan mencicipi kue yang dijajakan di kedai ini…

Kayak apa rasanyaaa??? Sebelum mencoba KUE BALOK, aku musti sabar sebab antrenya nggak maen-maen, men. Ada sekitar empat sampai lima orang yang mengantre, sebagian pelanggan memenuhi bagian dalam kedai yang hanya berukuran 3 x 4 meter itu. Sebagian lainnya menunggu di bagian luar kedai karena pesanan mereka akan dibawa pulang. Oh, ya, pesanan mereka bukan sebijik atau dua bijik, yaaa minimal lima bijik lahh. Kebayang nggak berapa lama kita mengantre??? Ya, lumayan lama, sekitar setengah jam, tapi aku dan shinta teteup rela mengantre. Kami duduk di bangku kayu di depan kedai dengan gelisah. Duh, rasanya nggak sabar, keburu mati penasaran nih karena sebelumnya belum pernah nyoba kue ini… T_T

Baca Juga :

Kalau dilihat dari bentuknya secara sekilas, kue balok mirip dengan kue pukis. Tapi ukurannya lebih besar, bahan dasarnya pun berbeda dengan kue pukis. Kue balok dibuat dari terigu, mentega, gula pasir, telur ayam, soda kue, susu bubuk, vanili dan air secukupnya. Adonan kue balok di kedai ini padat, tidak encer seperti kebanyakan adonan kue balok kekinian. Sesuai namanya, kue balok berbentuk balok (kubus persegi panjang). Aromanya harum, warnanya kuning gading sedikit keemasan. Aku memesan KUE BALOK yang matang dan setengah matang. Pertama kali aku coba kue balok yang setengah matang. Bagian luarnya bertekstur agak keras, tapi begitu dibelah… wow~  adonan bagian dalamnya meleleh banget…

Rasanya manis legit, lezat disantap hangat-hangat. Dann, lelehan dalamnya bikin ketagihan…

Kue Balok yang matang sempurna tak kalah enak. Tekstur bagian luarnya hampir sama dengan yang setengah matang, hanya warnanya sedikit lebih gelap, bagian dalamnya lembut… Menikmati KUE BALOK belum lengkap bila tak ditemani minuman, aku dan shinta masing-masing memesan segelas teh tawar hangat. Minuman memang ini paling cocok sebagai pendamping kue balok yang rasanya manis. Kami asyik menyesap teh usai menikmati gigitan demi gigitan kue balok. Di luar air masih bergulir rintik-rintik, cuaca semakin dingin. Hhmmm, kue balok – teh hangat – gerimis dan dingan, memang perpaduan yang sempurna!


Bagiku, proses pembuatan kue balok merupakan sebuah atraksi yang menarik. Cara memasak kue balok masih menggunakan panggangan tradisional, terdiri dari pangganan atas dan panggangan bawah yang terpisah. Tujuan memakai pemanggang atas-bawah agar kue balok matang merata.  Ada dua set pemanggang yang digunakan… Cetakan KUE BALOK diletakkan di atas panggangan bawah, sementara panggangan atas bersifat portable, ada pegangannya jadi mudah dipindah-pindah. Cetakan kue balok beda dengan cetakan pukis, ukurannya lebih besar. Dalam satu loyang, ada delapan cetakan kue balok. Pemanggangannya, offcourse masih pake arang, tentu manajemen arang ini nggak mudah, gengs! Pembuatnya harus menjaga arang yang ada di dalam dua set pemanggang tetap menyala selama proses pemanggangan.


Di sela menunggu kue balok matang, tadi, aku dan shinta sempat berbincang dengan pengelolanya. Mang Ade, pemilik kedai kue balok tanpa nama, rupanya ia meneruskan usaha keluarga yang diwariskan turun-temurun. Menurut penuturan Mang Ade, kedai KUE BALOK ini sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Wah, sudah berapa tahun, ya??? Sejak itu pula, kedai ini belum pernah sekalipun berpindah tempat. Warung ini juga bertahan dengan kesederhanaan dan suasana jadulnya.

Tapi jangan salah, warung yang buka mulai jam tujuh pagi hingga jam sepuluh malam ini tidak pernah sepi pengunjung. Hhmmm, bisa jadi sarapan pagi, pengganjal perut saat siang, dan kudapan ringan menjelang malam. KUE BALOK yang dijual di kedai ini hanya menyediakan satu varian, yaitu kue balok original (tanpa rasa), dan tanpa topping. Oh, ya, harga kue balok ini juga tidak menguras kantong, bandrol harganya seribu rupiah per bijinya. Murce kaannn…


KAWAN RANSEL udah pernah nyobain belum???
Kalau KAWAN RANSEL berencana liburan ke Ciwidey, mampirlah ke kedai ini dan cobalah kue balok, si manis yang legit menggigit.

‒ Teks : NISYA RIFIANI / Januari 2019 ‒
Foto : SHINTA WURI H.

:: Don’t copy any materials in this blog without permission ::

You Might Also Like

17 comments

  1. Kayaknya aku belum pernah makan deh mbak 😅😅😅 mau dong, aku suka banget sama jajanan kue2 gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jogja ada nih mbak, yang versi kekinian ada rasa-rasanya kayak rasa brownis, pandan, dsb

      Delete
  2. Kalo kue balok asli sama kue balok kekinian sama apa beda si nis? Kemarin nemu kue balok kekinian di Jogja, tapi belum beli. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bedanya ada di rasa-rasanya dis, kalao yg kekinian ada rasa brownies, pandan, dsb... Terus nek tak lihat, teksturnya yg kekinian kebanyakan lebih lembek tapi lumer juga...

      Delete
  3. Kangen pulkam Nis jadinya sayaaaahhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikut dong ikuuttt... di sana banyak street food yang enak-enak kan yaa...

      Delete
  4. Belum pernah nyobain Kue Balok yang ini. Saya tahunya kue Balok itu ketela goreng, he, he.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Balok yang dari ketela mah bukan kue namanya, hahaha... Cobain deh mbak, enak lho ini, di jogja juga mulai banyak yang jualan

      Delete
  5. Kue jadul ini di Jogja ada juga ga ya? Pernah lihat bentuknya mirip kotak gitu juga tapi nyebutnya roti kijing, jarena bentuknya spt kijing aka nisan 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada mbak, ada beberapa yang jual kue balok kekinian di jogja. Hampir sama kayak roti kijing tapi ini beda mbak...

      Delete
  6. Menarik. Aku belum pernah icip nih kue balok

    ReplyDelete
  7. Wah, kue jadul ini. Kalau sampai antre berarti banyak yang suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang enak ini mak.. makanya lariss banget dan kedainya bertahan laman

      Delete
  8. Aku tau kue balok gara2 sinetron preman pensiun dulu. Dalam benakku kue ini keras karena namanya balok ahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya yo tak kira keras mbak, apalagi penampakannya kokoh gitu kuenya, eh ternyata lembut...

      Delete
  9. Sangat menginspirasi sekali Kak, gegara artikel ini saya bener2 pengen buka usaha ini dijogja, tp ada satu pertanyaan Kak, kue balok tahan berapa hari? ,,, salam dari Jogja Kak :D.

    ReplyDelete

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe